Kesehatan Pranikah

Hoho… alhamdulillah akhirnya berkesempatan lagi untuk sharing materi seputar pranikah. Kali ini saya akan sharing tentang kesehatan pranikah. Kalau dalam melamar kerja ada yang namanya tes kesehatan, sebelum nikah pun sama lho. Bahkan lebih penting daripada tes kesehatan ketika melamar pekerjaan. Kenapa? Soalnya kita akan membangun sebuah ‘perusahaan’ yang visi misinya gak hanya di dunia, melainkan sampai akhirat. Dan baik tidaknya sebuah masyarakat ditentukan dari sistem di keluarga. (whohohoho…. Ternyata saya bisa nulis kayak gini :p)

Untuk langkah awal, mari kita pandang diri kita sebagai sebuah mobil. Perawatan Ferrari tentunya tidak akan sama dengan perawatan sebuah bajai. Maksudnya, mari kita posisikan diri kita sebagai mobil yang mahal. Dengan begitu, kita akan berhati-hati dan senantiasa merawat diri dengan treatment terbaik. Mulai dari asupan gizi, asupan rohani sampai memperhatikan kehalalan makanan yang kita makan. Dan ingat, gizi yang baik tidak selalu identik dengan harga yang mahal. Buat mahasiswa, tinggal akal-akalan aja gimana cara dapet gizi baik dengan cara yang ‘gratis’. Misalnya dateng ke acara nikahan setiap minggu di mesjid-mesjid besar :p., tinggal pasang wajah sok kenal, kado ala kadarnya, dan baju batik. Hohoho

Khusus kesehatan pranikah, sebetulnya banyak banget materi yang didapat, mulai dari kesehatan reproduksi, cara berhubungan suami istri yang baik sesuai syariat, sistem kalender (hehe), dan lain-lain. Rame pokoknya. Sebelum kepada inti kesehatan pranikah, akan sedikit disinggung mengenai malam pertama. Tenang, gak akan bahas yang aneh-aneh kok.

Malam pertama adalah malam yang sangat strategis, sangat memegang peranan yang penting. Nah, bagi yang belum menikah, disarankan bahwa di malam pertama lah kita menentukan visi misi keluarga. Mau dibawa kemana, dan seperti apa gambaran masa depan keluarga kita, harus dirancang disini. Setelah executive summary nya selesai dibuat, selanjutnya terserah Anda :p

Berlanjut ke masalah medical check up pranikah. Mungkin sampai saat ini banyak orang yang tidak mau melakukannya karena bisa saja calon pasangan kita membatalkan pernikahan karena masalah kesehatan yang kita derita. Tapi bukan itu tujuan utamanya. Tujuan utamanya adalah mengantisipasi berbagai kemungkinan yang akan dihadapi setelah menikah. Tentunya jika kedua mempelai memahami pentingnya medical check up, maka hal ini akan sangat berguna di masa depan.

Berbagai kemungkinan yang akan terjadi telah dipersiapkan. Hal ini akan menjadi masukan yang bermanfaat dalam proses penyusunan ‘executive summary’ yang telah dibahas di atas. Misalnya sang suami harus lebih lembut lagi karena si istri punya penyakit lemah jantung. Atau sebaliknya si istri harus lebih sabar dan tidak meminta dibelikan sesuatu karena sang suami mudah setres, dll.

Satu hal yang selalu saya amati ketika mengikuti kelas: setiap materi sekolah pranikah membuat saya sadar pentingnya sifat romantis dan perhatian ketika membangun sebuah rumah tangga. Ya, tutornya selalu bercanda ketika kelas dengan dialog-dialog sebagai berikut:

- Istri: “Wah, Abi hebat. Bisa tahu masalah-masalah seputar perempuan”
- Suami: Sambil tersenyum, bergumam dalam hati “Ya iyalah, alumni SPN”

- Istri: “Wah, Abi romantis sekali ... “
- Suami: Sambil tersenyum, bergumam dalam hati “Ya iyalah, alumni SPN”

- Istri: “Wah, Abi luar biasa... “
- Suami: Sambil tersenyum, bergumam dalam hati “Ya iyalah, alumni SPN”

Percaya atau tidak, saya sendiri suka tersenyum gak jelas kalau mengingat-ingat contoh dialog tersebut :D. hahay jadi curhat gak jelas gini. Semoga isi tulisan dan judulnya gak ngaler ngidul (bertolak belakang) :p
Previous
Next Post »

8 comments

Write comments
deena
AUTHOR
March 17, 2010 at 1:31 PM delete

menarik jg topiknya.. haha hihi terus saat baca tulisan ini..
sy tunggu postingan selanjutnya ya..

Reply
avatar
Mamah Ani
AUTHOR
March 17, 2010 at 6:57 PM delete

Sehat itu berarti sehat fisik, mental dan sosial
Nah...kalau mau nikah, medical check up nya ya yang itu....secara fisik harus bagus, kalau nggak bagus, ada penyakit keturunan, ya antisipasinya gimana kalau anaknya membawa gen penyakit tsb....
Secara kejiwaan, mental juga harus sehat...konsultasi ke ahli kesehatan jiwa pranikah...ada tuh di Prabu dimuntur....secara sosial juga harus sehat, jangan yang kurung batokeun....begitu....

Pada akhirnya sih, yang menyelamatkan dan membahagiakan itu adalah rasa saling sayang, saling respek, saling support, saling memperbaiki diri sendiri, saling memberi energi....nggak usah aneh aneh deh...apalagi di rekayasa, atural aja, begituuuuu

Reply
avatar
Lani Ruhendi
AUTHOR
March 18, 2010 at 6:57 AM delete

Bagus Boys...

ya,jadi tahu sekarang...

Reply
avatar
Anonymous
AUTHOR
March 19, 2010 at 9:27 AM delete

kayaknya perlu tambahan ni tuk pra nikahnya, berupa banyak baca buku penunjang sebelum kita melangkah ke jenjang pernikahan. karena nikah itu juga perlu banyak ilmunya, tidak hanya sekedar semangat saja.,,,

Reply
avatar
4estercute
AUTHOR
March 25, 2010 at 6:12 PM delete

Ehm2....kak thamrin mau segera ya..
Etoser bogor angkatan 2005, mba eka wl dan mba dian akan menggenapkan setengah dien nya lho. kk kapan?

Reply
avatar
Anonymous
AUTHOR
March 27, 2010 at 11:28 PM delete

weleh, masnya ini sekolahnya di mana sih kok ada pelajaran pranikah? saya aja di tempat kuliah ane ndak ada tuh mata pelajarannya. Ntar bakal bilang: SPN dah! hehe.

Reply
avatar
asha
AUTHOR
April 1, 2010 at 5:46 PM delete

tamrin, siapa jodohmu??? tinggal ditunggu aj surat undangannya yah... ntar piala nikah bergilir nyampe di tangan tamrin... :p

Reply
avatar
April 2, 2010 at 8:15 AM delete

@asha: Gak tahu siapa sha, yang jelas tiap orang udah punya jodoh masing-masing :p hehe

Reply
avatar
"Aku wasiatkan kepada kamu untuk bertakwa kepada Allah; mendengar dan taat (kepada penguasa kaum muslimin), walaupun seorang budak Habsyi. Karena sesungguhnya, barangsiapa hidup setelahku, dia akan melihat perselishan yang banyak. Maka wajib bagi kamu berpegang kepada Sunnahku dan Sunnah para khalifah yang mendapatkan petunjuk dan lurus. Peganglah dan gigitlah dengan gigi geraham. Jauhilah semua perkara baru (dalam agama). Karena semua perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan semua bid’ah adalah sesat." (HR. Abu Dawud no: 4607; Tirmidzi 2676; Ad Darimi; Ahmad; dan lainnya dari Al ‘Irbadh bin Sariyah).