-----

no image

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Sejenak bacalah dengan khidmat 

TANDA "?" SAAT REMBULAN SYAWWAL KEMBALI TAMPAK TERSENYUM (1)
****

Ada satu pertanyaan yang senantiasa mengayun di serambi hati, saat rembulan Syawwal—yang indah itu—akhirnya tersenyum lagi menyapa bumi. Tentang Ramadhan kah? Yap, apakah dia yang baru saja lewat menyapa dengan salam perpisahan, ataukah justru kita yang lebih dulu melambaikan kepadanya tangan kebebasan?

Wahai sobat! Garisbawahi kata “kebebasan”, lalu pandanglah ia dengan mata hati barang sejenak. Kebebasan dari apa? Kebebasan dari murka Allah kah? Atau mungkin kebebasan dari “Penjara Ramadhan” yang membelenggu? Orang arif mungkin tidak setuju dengan ungkapan “Penjara Ramadhan”, namun realitanya?

Gemuruh takbir malam lebaran seolah hanya terompet pertanda gerbang pelampiasan telah dibuka kembali. Lapar dan dahaga yang kita rasakan sebulan penuh di jalan Allah, sepertinya tak berbekas . Shalat yang kita dirikan di penghujung malam seakan hanya tinggal cerita. Yang terlintas di benak hanyalah “apa yang harus kita persiapkan demi pesta perayaan?”. Tidak jarang—bahkan terlalu sering—detik-detik perpisahan dengan Ramadhan justru kita rayakan dengan pengkhianatan pada Ilahi. Berhura-hura, berfoya-foya, dan memamerkan keangkuhan, adalah sebagian kecil kealpaan kita yang paling ringan saat itu.

Kita lupa bahwa lapar dan dahaga yang kita rasakan sebulan penuh, sejatinya “menceritakan” pada kita beragam kisah, bahwa di sana masih banyak anak-anak yang tak pernah bisa menikmati kue-kue lebaran buatan sang bunda, tak ada baju baru pembelian sang ayah. Melewati malam lebaran dengan pakaian yatim bukanlah keinginan mereka. Menyapa dinginnya fajar Syawwal di balik selimut piatu bukanlah mimpi yang mereka harapkan.

Kita lupa bahwa setiap sujud yang kita haturkan bagi Sang Pencipta sepanjang malam Ramadhan, sejatinya mengajarkan betapa pakaian kehinaan senantiasa menyelubungi aurat dan borok-borok di sekujur jiwa dan raga kita di hadapan Ilahi. Juga bahwasanya “Selendang Keagungan dan Kebesaran”, selamanya akan menjadi milik-Nya semata. Sehingga tak pantas sedikitpun kita tersenyum dengan senyum keangkuhan pada si miskin penerima zakat, tak layak secuil pun kita menganggap hina mereka, kaum papa yang meminta-minta. Sungguh kebutuhan kita akan ampunan Allah (melalui zakat dan sedekah yang kita tunaikan), jauh lebih besar daripada kebutuhan fakir miskin terhadap harta-harta yang kita miliki, sebesar apapun kita menginfakkannya.

Kita lupa—atau mungkin pura-pura lupa—bahwa predikat kelulusan dari madrasah Ramadhan adalah takwa; ditandai dengan hati yang bertambah khusyu’ dan lembut, kasih sayang pada sesama yang semakin mengakar, dan tulusnya pengabdian pada titah-titah Ilahi yang semakin menjulang.**

http://kristaliman.wordpress.com/2012/08/22/lantas-apa-setelah-ramadhan/

no image

Ahli Ibadah Tapi Ahli Neraka.

لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه، أَمَّا بَعْدُ

Kaum muslimin yang dirahmati Allah,

Puji syukur kita haturkan ke hadhirat Allah, atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya, kita dimudahkan untuk melaksanakan berbagai ketaatan dan ibadah kepada-Nya. Kita bersyukur kepada Allah, atas petunjuk yang Dia curahkan kepada kita, sehingga kita bisa menyembah-Nya,beribadah kepada-Nya dan tunduk terhadap aturan-Nya.

Betapa banyak manusia di alam ini yang tersesat, sehingga mereka tidak menyembah Allah, namun yang mereka sembah adalah setan. Mereka menyembah, namun salah sasaran. Kita dan mereka sama-sama ibadah. Bedanya, kita beribadah kepada Tuhan yang benar, Al-Haq. Sementara mereka beribadah kepada tuhan yang batil, menyembah thaghut, yang tidak layak untuk disembah.

Hadhirin yang saya hormati…,

Kita dan mereka sama-sama capek, kita dan mereka sama-sama mengorbankan waktu dan tenaga. Bahkan bisa jadi, mereka lebih capek dibandingkan kita.

Allah berfirman menceritakan keadaan salah satu ahli neraka,

عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ . تَصْلَى نَارًا حَامِيَةً

“Rajin beramal lagi kepayahan, namun, memasuki api yang sangat panas (neraka).” (QS. Al-Ghasyiyah: 3 – 4).

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan satu riwayat dari Abu Imran Al-Jauni, bahwa suatu ketika Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu pernah melewati sebuah kuil, yang ditinggali seorang rahib nasrani.

Umarpun memanggilnya, ‘Hai rahib… hai rahib.’ Rahib itupun menoleh. Ketika itu, Umar terus memandangi sang Rahib. Dia perhatikan ada banyak bekas ibadah di tubuhnya. Kemudian tiba-tiba Umar menangis.

Beliaupun ditanya, ‘Wahai Amirul Mukminin, apa yang membuat anda menangis?. Mengapa anda menangis ketika melihatnya.’
Jawab Umar, ‘Aku teringat firman Allah dalam Al-Quran, (yang artinya) ‘Rajin beramal lagi kepayahan, namun, memasuki neraka yang sangat panas’ Itulah yang membuatku menangis.’ (Tafsir Ibn Katsir, 8/385).

Kaum muslimin, yang berbahagia…,

Tahukah anda mengapa mereka di neraka?

Mereka rajin ibadah, namun semua sia-sia, justru mengantarkan mereka ke neraka?

Apakah Allah mendzalimi mereka? Tentu tidak, karena Allah tidak akan pernah mendzalimi hamba-Nya. Allah haramkan diri-Nya untuk mendzalimi hamba-Nya.

Lalu apa sebabnya?

Tentu saja semua itu kembali kepada pelaku perbuatan itu. Sebabnya adalah dia salah dalam beribadah. Dia beribadah, namun salah sasarannya, salah tata caranya, salah niatnya, salah yang disembah, atau salah semuanya. Sehingga bagaimana mungkin Allah akan menerimanya? Dan di saat yang sama, Allah justru memberikan hukuman kepada mereka. Wal ‘iyadzu billah..

Saudaraku sesama muslim, yang dirahmati Allah..,
Menyadari hal ini, sudah selayaknya kita bersyukur, Allah jadikan kita orang mukmin, padahal kita tidak pernah memintanya. Kita patut bersyukur, kita terlahir dari keluarga muslim, padahal kita tidak pernah diminta untuk memilihnya. Yang ini menjadi salah satu modal bagi kita agar ibadah kita diterima oleh Allah.

Hadirin…,

Kita sudah memiliki modal iman, tinggal saatnya kita berusaha agar amal kita diterima Allah. Bagaimana caranya? Caranya: kita berupaya agar amal yang kita kerjakan adalah amal yang benar. Benar sesuai dengan kriteria yang ditetapkan syariat.

Kriteria itu, Allah nyatakan dalam firman-Nya,

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”. (QS. Al-Kahfi: 110).

Keterangan ayat,

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya” artinya dia siap bertemu Allah dengan membawa bekal amal yang diterima.
“hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh”, itulah amal yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”, dengan ikhlas karena Allah ketika beribadah.

Itulah salah satu ayat yang menjelaskan kriteria amal yang benar dalam syariat,

Benar niatnya: ikhlas karena mengharap balasan dari Allah
Benar tata caranya: sesuai petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Niat yang ikhlas semata, belumlah cukup untuk membuat amal kita diterima. Semangat, bukan modal utama agar amal kita diterima. Karena kita juga dituntut untuk benar dalam tata caranya.

Sebagai mukmin, kita tentu tidak ingin amal kita ditolak karena salah prakteknya. Kita dalam beramal telah mengeluarkan modal tenaga, waktu, atau bahkan harta. Jangan sampai menjadi batal, karena kita kurang perhatian dengan tata cara beramal.

Karena itu, mari kita menjadi orang yang mencintai sunah dan berusaha membumikan sunah. Berusaha menyesuaikan amal kita dengan sunah. Dengan itu, kita bisa berharap, amal kita diterima. Kita bisa tiru semangat para ulama dalam meniti sunah, hingga mereka berdoa,

اللهم أمتنا على الإسلام وعلى السنة

“Ya Allah, matikanlah aku di atas islam dan sunah…” (HR. Al-Khatib dalam Tarikh Baghdad, 9/354).

Semoga Allah menerima amal kita dan tidak menjadikannya sia-sia. Amiin.

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

no image

Salah seorang murid Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menceritakan kisah ini kepadaku (penulis kisah ini-pen). Dia berkata : Pada salah satu kajian Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah di Masjidil Haram, salah seorang murid beliau bertanya tentang sebuah masalah yang didalamnya ada syubhat, serta pendapat dari Syaikh Bin Baz rahimahullah tentang masalah tersebut. maka Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjawab pertanyaan penanya serta memuji Syaikh Bin Baz rahimahullah. Ditengah-tengah mendengar kajian, tiba-tiba ada seorang laki-laki dengan jarak kira-kira 30 orang dari arah sampingku kedua matanya mengalirkan air mata dengan deras, dan suara tangisannya pun keras hingga para murid pun mengetahuinya.

Di saat Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah selesai dari kajian, dan majelis sudah sepi aku melihat kepada pemuda yang tadi menangis. Ternyata dia dalam keadaan sedih, dan bersamanya sebuah mushhaf. Aku pun lebih mendekat hingga kemudian aku bertanya kepadanya setelah kuucapkan salam: “Bagaiman kabarmu wahai akhi (saudaraku), apa yang membuatmu menangis ?”

Maka ia menjawab dengan bahasa yang mengharukan, “Jazakallahu khairan.” Akupun mengulangi sekali lagi, “Apa yang membuatmu menangis akhi…?”
Dia pun menjawab dengan tekanan suara yang haru, “Tidak apa-apa, sungguh aku telah ingat Syaikh Bin Baz rahimahullah, maka aku pun menangis.”
Kini menjadi jelas bagiku dari penuturannya bahwa dia dari Pakistan, sedang dia mengenakan pakaian orang Saudi.

Dia meneruskan keterangannya: “Dulu aku mempunyai sebuah kisah bersama Syaikh Bin Baz rahimahullah, yaitu sepuluh tahun yang lalu aku bekerja sebagai satpam pada salah satu pabrik batu bata di kota Thaif. Suatu ketika datang sebuah surat dari Pakistan kepadaku yang menyatakan bahwa ibuku dalam keadaan kritis, yang mengharuskan operasi untuk penanaman sebuah ginjal. Biaya operasi tersebut membutuhkan tujuh ribu Riyal Saudi (kurang lebih 17,5 juta Rupiah). Jika tidak segera dilaksanakan operasi dalam seminggu, bisa jadi dia akan meninggal. Sedangkan beliau sudah berusia lanjut.

Saat itu, aku tidak memiliki uang selain seribu Riyal, dan aku tidak mendapati orang yang mau memberi atau meminjami uang. Maka aku pun meminta kepada perusahaan untuk memberiku pinjaman. Mereka menolak. Aku menangis sepanjang hari. Dia adalah ibu yang telah merawatku, dan tidak tidur karena aku.

Pada situasi yang genting tersebut, aku memutuskan untuk mencuri pada salah satu rumah yang bersebelahan dengan perusahaan pada jam dua malam. Beberapa saat setelah aku melompati pagar rumah, aku tidak merasakan apa-apa kecuali para polisi tengah menangkap dan melemparkanku ke mobil mereka. Setelah itu dunia pun tersa menjadi gelap.

Tiba-tiba, sebelum shalat subuh para polisi mengembalikanku ke rumah yang telah kucuri. Mereka memasukkanku ke sebuah ruangan kemudian pergi. Tiba-tiba ada seorang pemuda yang menghidangkan makanan seraya berkata, “Makanlah, dengan membaca bismillah !” Aku pun tidak mempercayai yang tengah kualami.

Saat adzan shalat subuh, mereka berkata kepadaku, “Wudhu’lah untuk shalat!” Saat itu rasa takut masih menyelimutiku. Tiba-tiba datang seorang lelaki yang sudah lanjut usia dipapah salah seorang pemuda masuk menemuiku. Kemudian dia memegang tanganku dan mengucapkan salam kepadaku seraya berkata, “Apakah engkau sudah makan ?” Aku pun, ‘Ya, sudah.’ Kemudian dia memegang tangan kananku dan membawaku ke masjid bersamanya. Kami shalat subuh. Setelah itu aku melihat lelaki tua yang memegang tanganku tadi duduk diatas kursi di bagian depan masjid, sementara banyak jama’ah shalat dan banyak murid mengitarinya.

Kemudian Syaikh tersebut memulai berbicara menyampaikan sebuah kajian kepada mereka. Maka aku pun meletakkan tanganku diatas kepalaku karena malu dan taku.

Ya Allaaah…, apa yang telah kulakukan ? aku telah mencuri di rumah Syaikh Bin Baz ?!
Sebelumya aku telah mendengar nama beliau, dan beliau telah terkenal di negeri kami, Pakistan.
Setelah Syaikh Bin Baz rahimahullah selesai dari kajian, mereka membawaku ke rumah sekali lagi. Syaikh pun memegang tanganku, dan kami sarapan pagi dengan dihadiri oleh banyak pemuda. Syaikh mendudukkanku di sisi beliau. ditengah makan beliau bertanya kepadaku, “Siapakah namamu ?” Kujawab, “Murtadho.”

Beliau bertanya lagi, “Mengapa engkau mencuri ?” Maka aku ceritakan kisah ibuku. Beliau berkata, “Baik, kami akan memberimu 9000 (sembilan ribu) Riyal.” Aku berkata kepada beliau, “Yang dibutuhkan hanya 7000 (tujuh ribu) Riyal.” Beliau menjawab, “Sisanya untukmu, tetapi jangan lagi mencuri wahai anakku.”

Aku mengambil uang tersebut, dan berterima kasih kepada beliau dan berdo’a untuk beliau. aku pergi ke Pakistan, lalu melakukan operasi untuk ibu. Alhamdulillah, beliau sembuh. Lima bulan setelah itu, aku kembali ke Saudi, dan langsung mencari keberadaan Syaikh Bin Baz rahimahullah. Aku pergi kerumah beliau. aku mengenali beliau dan beliau pun mengenaliku. .
Kemudian beliau pun bertanya tentang ibuku. Aku berikan 1500 (seribu lima ratus) Riyal kepada beliau, dan beliau bertanya, “Apa ini ?” Kujawab, “Itu sisanya.” Maka beliau berkata, “Ini untukmu.”

Ku katakan, “Wahai Syaikh, saya memiliki permohonan kepada anda.” Maka beliau menjawab, “Apa itu wahai anakku ?” kujawab, “Aku ingin bekerja pada anda sebagai pembantu atau apa saja, aku berharap dari anda wahai Syaikh, janganlah menolak permohonan saya, mudah-mudahan Allah menjaga anda.” Maka beliau menjawab, “Baiklah.” Aku pun bekerja di rumah Syaikh hingga wafat beliau rahimahullah.

Selang beberapa waktu dari pekerjaanku di rumah Syaikh, salah seorang pemuda yang mulazamah kepada beliau memberitahuku tentang kisahku ketika aku melompat kerumah beliau hendak mencuri di rumah Syaikh. Dia berkata, “Sesungguhnya ketika engkau melompat ke dalam rumah, Syaikh Bin Baz saat itu sedang shalat malam, dan beliau mendengar sebuah suara di luar rumah. Maka beliau menekan bel yang beliau gunakan untuk membangunkan keluarga untuk shalat fardhu saja. Maka mereka terbangun semua sebelum waktunya. Mereka merasa heran dengan hal ini. Maka beliau memberi tahu bahwa beliau telah mendengar sebuah suara. Kemudian mereka memberi tahu salah seorang penjaga keamanan, lalu dia menghubungi polisi. Mereka datang dengan segera dan menangkapmu. Tatkala Syaikh mengetahui hal ini, beliau bertanya, ‘Kabar apa ?’ Mereka menjawab, ‘Seorang pencuri berusaha masuk, mereka sudah menangkap dan membawa ke kepolisian.’ Maka Syaikh pun berkata sambil marah, ‘Tidak, tidak, hadirkan dia sekarang dari kepolisian, dia tidak akan mencuri kecuali dia orang yang membutuhkan’.”

Maka di sinilah kisah tersebut berakhir. Aku katakan kepada pemuda tersebut, “Sungguh matahari sudah terbit, seluruh umat ini terasa berat, dan menangisi perpisahan dengan beliau rahimahullah. Berdirilah sekarang, marilah kita shalat dua rakaat dan berdo’a untuk Syaikh rahimahullah.” Mudah-mudahan Allah Ta’ala merahmati Syaikh Bin Baz dan Syaikh Ibnu Utsaimin, dan menempatkan keduanya di keluasan surga-Nya. Amiin…(penulis kisah ini : Mamduh Farhan al Buhairi).

no image

Jika ada yang membahas tentang Tauhid dan  Syirik atau Sunnah dan bid’ah, bukan hal aneh jika akan muncul cemoohan “Wahabi!”. Ternyata membahas larangan mengucapkan selamat natal tempo hari juga muncul cemoohan itu lho… ??? Bukankah kaum muslimin (bukan hanya Wahhabi) telah sepakan akan haramnya ucapan selamat natal dan semisalnya !??

Tudingan dan cemoohan ini muncul jika terdapat Nasehat seperti, “Beribadahlah dan Memintalah hanya kepada Allah saja…”, atau “Beribadahlah sesuai tuntunan Rasulullah…” atau “Janganlah menyelisihi Rasulullah…” atau “Pahamilah agama seperti para Sahabat Nabi memahami Agama…” atau nasihat-nasihat yang semisalnya…..

Perhatikanlah cuplikan-cuplikan nasihat di atas apakah ada yang salah dari nasihat tersebut? Bukankah sebagai seorang muslim sudah seharusnya kita hanya beribadah dan berdo’a kepada Allah semata? Bukankah sebagai seorang muslim sudah seharusnya kita beribadah sesuai dengan Sunnah/Petunjuk Rasulullah? Bukankah sebagai seorang muslim sudah seharusnya kita berpegang dengan pemahaman para Salafus Shalih? Lantas mengapa ada sebagian orang ketika disampaikan kepadanya nasihat untuk melaksanakan itu semua dengan serta merta ia menjawab, “Wahhabi!”, “Awas ajaran Wahhabi!”, “Ente Wahhabi ya?!”

Tahukah Anda bahwa Wahhabi adalah nisbat kepada Al-Wahhab (Yang Maha Pemberi), salah satu diantara Asma’ul husna… ? Sebagaimana Salafi nisbat kepada kaum Salafus Shalih, Syafi’i nisbat kepada Imam Asy-Syafi’i, sebagaimana pula Hanbali, Maliki, Hanafi dst.

Jika gelar atau nisbat Syafi’i diberikan kepada orang yang mengikuti madzhab Imam Asy-Syafi’i, seperti Imam Ibnu Katsir Asy-Syafi’i, Imam Ibnu Hajar Asy-Syafi’i maka gelar atau nisbat Wahhabi diberikan kepada orang yang mengikuti perintah Al-Wahhab, Dialah yang memerintahkan kita untuk beribadah kepadaNya semata dan agar kita berlepas diri dari kesyirikan. Karena Dialah Pemilik dan Penguasa alam semesta.

رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau. karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)”. [Ali Imran : 8]

Lebih miris, terkadang mereka membumbui cemoohan merka tersebut dengan kata-kata yang tidak pantas untuk disandingkan dengan nisbat kepada Asma’ul husna tersebut, seperti ucapan sebagaian mereka “Wahbabi!”. subhanallah wa ta’ala ‘amma yaquluna ‘uluwwan kabira…

Berikut ini beberapa point yang sering kali orang tuduhkan kepada Wahhabi padahal -alhamdulillah- mereka bersih dari tuduhan tersebut. Mereka disibukkan menuduh dan mencari-cari celah untuk menjatuhkan Wahhabi dan menjauhan manusia darinya sehingga akhirnya mereka lupa dan orang yang mereka dakwahi pun lupa bahwa disana ada sebuah fakta nyata bukan rekayasa yang mereka harus waspada darinya.

Wahhabi suka mengkafirkan kaum muslimin.

Di sana ada kelompok yang benar-benar suka mengkafirkan, dan tidak tanggung-tanggung dalam mengkafirkan. Bukan hanya kaum muslimin bahkan hampir seluruh Sahabat dan Istri Nabi di kafirkan oleh mereka. Ternyata, kelompok itu ternyata bukanlah Wahhabi.

Wahabi haus darah dan suka menumpahkan darah kaum muslimin.

Di sana ada kelompok yang suka membunuh dan menghalalkan darah kaum muslimin, bahkan rela berkonspirasi dengan kaum kuffar untuk membantai kaum muslimin sejak dahulu hingga kini. Peristiwa terbaru dan masih terus berlangsung adalah tragedi yang sedang terjadi di Suriah. Kita tahu, bahwa kelompok itupun bukanlah Wahhabi.

Wahabi suka berdusta, memalsukan, memanipulasi dan seterusnya

Di sana ada kelompok yang suka berdusta dan sangat suka berdusta, bahkan dusta dianggap sebagai salah satu ibadah dan merupakan bagian dari agama kelompok tersebut. Mereka menamainya sebagai “Taqiyah”. Lagi-lagi, kelompok tersebut bukanlah Wahhabi.

Wahabi menghalalkan kawin kontrak,

Di sana ada kelompok yang menjadikan kawin kontrak ini sebagai sarana beribadah, bahkan dengan janji berupa keutamaan yang sangat besar bagi yang mengamalkannya. Mereka menamainya dengan “Nikah Mut’ah” atau Kawin Kontrak. Nikah berjangka waktu ini bisa dilakukan hanya untuk beberapa jam saja atau bahkan beberapa menit. Kita tahu bahwa kelompok tersebut bukanlah Wahhabi.
Wahabi adalah Agama Tahayul.

Di sana ada kelompok yang meyakini takhayyul yang luar biasa aneh dan mustahil dipercayai oleh orang berakal. Mereka meyakini bahwa madzhab mereka dipimpin oleh 12 orang Imam. Akan tetapi, Imam mereka yang ke-12 yang bernama Muhammad bin Al Hasan Al ‘Askariy Al Muntazhor sejak 1.100 tahun lebih telah bersembunyi di dalam sebuah gua Sirdab di Samiraa, Iraq pada usia 9 tahun dan akan muncul di Akhir Zaman. Setelah kemunculannya, Sang Imam akan membongkar Kuburan Sahabat Abu Bakar, Umar bin Khattab (radhiyallahu ‘anhuma) dan Juga Istri Nabi Aisyah (radhiyallahu ‘anha) untuk di hukum dan di adili. Kita sama-sama tahu bahwa kelompok dengan keyakinan takhayyul ini bukanlah bernama Wahhabi.

Wahabi adalah Antek Amerika untuk memerangi kaum muslimin.


Faktanya, di sana ada kelompok yang membantu pasukan Tatar dari Mongol mengambil alih Iraq dimasa lampau dan akibat dari pengkhianatan kelompok tersebut sekitar satu juta kaum muslimin tewas dibantai oleh pasukan kuffar. Tidak jauh berbeda dengan tragedi masa lalu, sejak beberapa tahun yang lalu dan masih berlangsung hingga hari ini kelompok ini telah membantu pasukan Amerika menghancurkan Iraq. Lagi-lagi, kelompok itu bukanlah Wahhabi.

Wahabi suka menolak Kitab Ulama selain dari Madzhabnya

Di sana ada kelompok yang menolak dua kitab yang disepakati oleh kaum muslimin sebagai kitab paling Shahih setelah Al-Qur’an, yaitu Shahih Al-Bukhari & Shahih Muslim. Mereka pun menolak dan anti pati kepada tokoh ulama dari kalangan Shahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits Rasulullah, mereka amat sangat anti pati kepada Abu Hurairah.  Kita tahu bahwa kelompok itu bukanlah Wahhabi.

Wahabi itu sebenarnya Dajjal dan menguasai seluruh Arab Saudi

Kita semua tahu bahwa Rasulullah memberikan khabar kepada kita bahwa Dajjal dan pasukannya akan memasuki seluruh kota di dunia ini. Akan tetapi mereka tidak akan dapat masuk ke Mekkah dan Madinah karena adanya Malaikat yang berjaga disetiap pintu masuknya.

Jika saat ini pemerintah yang menguasai sebagian besar Jazirah Arab termasuk Makkah dan Madinah dituduh sebagai tentara Dajjal maka ada dua kemungkinannya. Tuduhan tersebut adalah dusta atau Malaikat yang menjaga dua kota tersebut telah lalai dari tugasnya.

Demikianlah beberapa point tuduhan yang sering kali diarahkan kepada Wahhabi dan sesering itu pula mengakibatkan kaum muslimin lalai dari fakta yang sebenarnya telah terpampang jelas dihadapan mereka. Semoga kita lekas menyadarinya.

Beberapa Ulama Dunia Islam saat ini yang dilabeli sebagai Wahhabi

Berikutnya, Anda tentu tidak asing dengan nama-nama seperti : Ahmed Deedat, Dr. Zakir Naik, atau Yusuf Estes ?

Tahukah Anda bahwa Dr. Zakir Naik juga disebut sebagai Wahhabi karena beliau selalu menasihatkan, “Back to the Qur’an and Authentic Hadits (Kembali Kepda Al-Qur’an dan Hadits yang Shahih)”.

Beliau juga disebut Wahabi karena tidak mengikat diri dengan hanya mengikuti salah satu mazhab saja, beliau mengikuti seluruh imam yang 4 yang sudah jelas shahih hadistnya.

Dr. Zakir Naik juga sempat dicela oleh beberapa orang Syi’ah hanya karena mengucapkan “Radhiyallah taa’la anhu” setelah menyebut nama Yazid.

Bagaimana dengan Ahmed Deedat…?? Beliau adalah guru Zakir Naik, dengan begitu otomatis beliau Wahhabi…?? Apalagi beliau sangat kesal dengan orang-orang yang suka berebut mencium tangannya, beliau pernah memarahi ribuan orang dalam satu gedung pertemuan karena hal tersebut…!! (Sebagian orang mengidentikkan orang yang tidak suka mencium tangan orang lain atau dicium tangannya oleh orang lain sebagai Wahhabi)

Anda yang menyukai dialog kristologi tentu tidak asing dengan Yusuf Estes…?? Seorang mantan pendeta yang memeluk Islam dan menjadi salah satu Da’i di Yayasan IRF Zakir Naik.

Beliau pernah ditanya : “Bagaimana pendapat anda tentang Wahhabi ??”

Beliau Menjawab : “Hati-hati anda bermain dengan salah satu Nama Allah, apalagi anda gunakan untuk mencemooh !!”

Apakah anda juga cukup familiar dengan suara Imam Masjidil Haram Syeikh Abdur-Rahman as-Sudais atau Syeikh Su’ud As-Syuraim…?? Keduanya juga tidak lolos dari sebutan sebagai Wahhabi, bahkan ada tokoh di Indonesia secara terang-terangan mengatakan seperti itu. Bahkan sang Tokoh memfitnah Syaikh As-Sudais dengan tuduhan bahwa beliau telah mengarang suatu buku yang menjatuhkan hadits-hadits shahih pada Shahih Bukhari. Laa hawla wa la quwwata illa billah…

Keterkaitan Syaikh As-Sudais dengan Wahhabi lebih terlihat lagi karena Syaikh As-Sudais pernah mengimami shalat yang di hadiri oleh Jamaah Diskusi IRF dan Dr. Zakir Naik (yang juga dikatakan sebagai Wahhabi) sendiri shalat tepat dibelakang beliau. Berdasarkan isu yang beredar bahwa orang Wahhabi tidak mau sholat kecuali di belakang orang yang se-madzhab, tentu hal ini semakin menguatkan untuk melabeli Syaikh As-Sudais sebagai Wahhabi.

Mu’allaf Eropa dan Amerika pun mengikuti Madzhab Wahhabi ?

Tahukah anda, hampir semua Muallaf Eropa dan Amerika tidak mengikuti Mazhab khusus, mereka hanya berpedoman kepada Al-Quran dan Hadist Shahih dan mengikuti pemahaman para sahabat…?? Apakah semua Da’i yang mantan pendeta yang berada di garda depan berdakwah kepada non muslim juga Wahabi…??

Salah seorang tokoh Anti-Wahhabi pernah berkata : “Wahhabi adalah yang berjenggot tebal dan celana cingkrang”

Lalu bagaimana dengan para Muallaf Eropa Amerika, Da’i-Da’i disana, semuanya berjenggot tebal…!! Tidak sedikit pula mereka yang memendekkan pakainannya agar tidak melewati mata kaki… Apakah sekarang kita akan “mencela” mereka…??

Saatnya bicara Fakta

FAKTA nya : Tidak ada satu kelompokpun yang berkata : “Kami adalah Wahabi, ikutilah kami, jika tidak kalian kafir” – Sama sekali tidak ada…!! Silahkan cari jika ditemukan…

FAKTA nya adalah : Sebaliknya sangat mudah kita temukan orang yang berkata : “Abu Bakar, Umar telah keluar dari Islam, dan yang mengikuti mereka adalah kafir dan halal darahnya”

Maksud dan inti tulisan ini adalah :

1. Agar kita semua berhati-hati menggunakan kalimat “Al-Wahhab” untuk mencela dan mencemooh, yang dimana kalimat itu adalah salah satu Asma Allah yaitu Maha Pemberi, agar kita tidak terjerumus kepada dosa besar…

2. Agar kita dapat mencermati, dan menelusuri ulang, sebenarnya siapa yang selalu melontar isu Wahabi…?? Apa tujuan mereka itu…?? Dan agar kita terhindar dari Fitnah memfitnah sesama kaum Muslimin…

Kalimat “Wahabi” sama hal nya dengan Kalimat “Terorist” Yang dilontarkan oleh sekelompok orang dan digunakan sebagai alat fitnah… Dan sayangnya kita termakan begitu saja tanpa mau menelaah dan berfikir…

Lebih disayangkan lagi orang yang tidak tau apa-apa…, karena sering mendengar dari orang lain akhirnya menjadi takut (thd wahabi) tanpa sebab… Jika istilah saya “Wahabi Phobia” dan ikut-ikutan celetuk-celetuk ­”Wahabi !!” “Hati-hati Wahabi” “si Fulan Wahabi” namun dia sendiri tidak tau persis kelompok mana yang telah menamakan dirinya sebagai Wahabi…

Dalam tulisa ini, saya mencoba menggunakan pendekatan pengamatan Sosial Media dalam membahas Wahhabi, karena hanya untuk menekankan kehati-hatian agar tidak “mencela” orang lain dengan kalimat Wahabi…

Sebagian tulisan ini disunting secara bebas dengan penyesuaian seperlunya dari Catatan File Islam.

Semoga bermanfaat… Barakallahu fiikum.

Back to Top