Apa itu Blog Monetizing?

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Dibaca dari sekilas saja sudah bisa ditebak kalau monetizing itu berasal dari kata money yang artinya uang. Jadi, blog monetizing adalah menjadikan blog kita sebagai sumber pendapatan. Saya gak bilang pasif income karena tetep aja kita harus berusaha kalo pengen dapet duit. Hanya usahanya sedikit beda.

Seseorang yang bergelut dalam bidang web/blog monetizing biasanya disebut sebagai publisher. Kalo yang masang iklan biasa disebut advertiser. Contoh usaha sebagai publisher adalah mendatangkan sebanyak-banyaknya pengunjung ke web/blog kita. Dengan demikian, kemungkinan orang mengklik iklan yang dipasang adalah semakin banyak.

Tapi ingat lho… usaha ini harus dijalankan dengan sikap yang jujur. Kita tidak boleh mengklik iklan yang kita pasang sendiri hanya untuk mengais beberapa sen dolar. Sesungguhnya bisnis online sama saja dengan bisnis di dunia nyata. Ketika kita mengabaikan segi kejujuran, maka sama saja dengan berbohong, menipu, dan hasilnya haram. Terlebih karena dosanya merupakan dosa sesama manusia, maka Allah tidak akan mengampuni seseorang sebelum dia meminta maaf kepada orang yang didzoliminya.

Dan yang paling ngeri, khususon buat muslim. Inget gak ayat Al Qur’an yang menyatakan bahwa diharamkan seseorang masuk surga ketika ada daging/darah yang terbentuk dari sesuatu yang haram. Ngeriii kali ya? Yah, intinya sama aja antara bisnis online sama bisnis dunia nyata. Harus jujur. Gak boleh ngeklik iklan sendiri!

Kembali ke topik, intinya dalam web/blog monetizing, kita membantu para advertiser untuk mempublikasikan bisnis mereka. Caranya? Dengan memasang link-link mereka di web/blog kita. Ada beberapa web yang menyediakan iklan berbayar. Yang paling terkenal tentunya Google Adsense. Tapi saya lupa lagi akun ama passwordnya, padahal udah dikirim nomor pin dari google T_T (curhat)..

Di Indonesia, yang cukup terkenal adalah ppcindo. Saya sendiri akhirnya pindah ke ppcindo dan baru mulai setelah 2 tahun membuat blog. Harga per kliknya gak terlalu besar, tapi lumayan kalo dikumpulin dikit-dikit. Banknya pun bebas. Ada Bank Mandiri, BCA, BNI, BRI, dll. Hanya saja selain bank BCA akan dipotong USD 5 setiap pengiriman komisi.

Oiya, untuk ppcindo, minimum pengiriman komisinya adalah USD 10 atau sekitar 92ribu rupiah. Ada lagi satu hal yang paling penting. Di ppcindo kita bisa memilih iklan yang tidak ingin ditampilkan di blog/web kita. Misal, saya memblok iklan-iklan yang berbau mlm dan website porno.

Finally, web/blog monetizing harus dijalankan secara jujur. Sebagai pengetahuan saja, Google Adsense saat ini mempersulit pendaftaran publisher yang berasal dari Indonesia. Kenapa coba? Hahay… banyak yang curang. Terlepas dari semua kecurangan yang telah dilakukan, saya mengingatkan sekali lagi. HARUS JUJUR! Karena 1 sen uang haram yang menjadi bagian dari tubuh kita akan menghalangi kita masuk surga. Dan mengurangi kebarokahan hidup kita di dunia yang sangat singkat ini….

Silakan kalo ada temen-temen yang ingin share dengan pengalamannya sekitar blog monetizing atau ada yang bertanya. InsyaAllah saya akan jawab selama saya tahu… Forum diskusi dimulai………….

Artikel terkait:

- Adsense
Previous
Next Post »

2 comments

Write comments
Anonymous
AUTHOR
February 16, 2010 at 12:37 AM delete

Genial dispatch and this mail helped me alot in my college assignement. Thank you seeking your information.

Reply
avatar
October 23, 2014 at 3:58 PM delete

Thanks useful information :)

Reply
avatar
"Aku wasiatkan kepada kamu untuk bertakwa kepada Allah; mendengar dan taat (kepada penguasa kaum muslimin), walaupun seorang budak Habsyi. Karena sesungguhnya, barangsiapa hidup setelahku, dia akan melihat perselishan yang banyak. Maka wajib bagi kamu berpegang kepada Sunnahku dan Sunnah para khalifah yang mendapatkan petunjuk dan lurus. Peganglah dan gigitlah dengan gigi geraham. Jauhilah semua perkara baru (dalam agama). Karena semua perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan semua bid’ah adalah sesat." (HR. Abu Dawud no: 4607; Tirmidzi 2676; Ad Darimi; Ahmad; dan lainnya dari Al ‘Irbadh bin Sariyah).