Renungan Akuarium

Sekitar dua bulan yang lalu, saya menempatkan sebuah akuarium kecil yang diisi oleh ikan-ikan hias di kamar saya. Awalnya hanya sekedar pelepas stress setelah kuliah, tapi ternyata berlanjut kepada kesenangan untuk memelihara ikan. Meskipun demikian, saya masih belum bisa memelihara ikan tersebut. Hal ini dibuktikan dengan fakta bahwa dari 17 ekor ikan yang pernah singgah di akuarium, kini hanya tersisa 5 ekor. Ada yang saya mutasi, mati karena depresi dan mati karena bunuh diri (Saya baru sadar setelah bangun tidur bahwa ada ikan mati mengering di samping saya karena dia loncat dari akuarium).

Yang paling penting bukan jumlah ikan yang tersisa, tapi tentang kaca akuarium itu sendiri. Saya baru tahu kalo kaca akuarium itu seperti cermin jika dilihat dari dalam dan seperti kaca tembus jika dilihat dari luar. Jadi ikan hanya bisa melihat lingkungan dalam akuarium saja. Mereka tidak bisa melihat dunia luar, ataupun melihat wajah imut saya ketika tidur atau pas ngasih makan. Mereka tidak merasa diperhatikan oleh saya, padahal tiap habis kuliah atau waktu kosong, saya selalu melihat mereka berenang ke sana kemari.

Sama halnya dengan kehidupan di dunia, kebanyakan orang merasa bahwa mereka tidak diperhatikan. Banyak orang yang bertindak seenak jidat tanpa merasa bahwa kita semua sebenarnya diperhatikan. Diperhatikan oleh Sang Pencipta, malaikatNya, bahkan anggota badan kita sendiri. Suatu saat semua kegiatan yang telah kita lakukan akan diperlihatkan dan tentunya akan dipertanggungjawabkan.

Lalu apa yang menjadikan “cermin” dalam hidup kita sehingga kita tidak merasa diperhatikan? Setidaknya ada beberapa hal yang menjadikan “cermin”, diantaranya adalah sempitnya akal, kerasnya hati, dan beraninya mulut berdusta. Semuanya merupakan akibat dari lemahnya iman atau bahkan ketiadaan iman dalam diri seseorang.

Sekedar mengingatkan untuk diri saya sendiri, kadang saya juga merasa bahwa ketika melakukan kejelekan, rasanya tidak ada yang memerhatikan. Astaghfirullahaladzim … Rasanya saya berada dalam “akuarium” dan tidak merasa diperhatikan. Temans, semoga saja kita semua bisa terbebas dari “cermin” yang ada pada diri kita. Semoga kita semua merasa selalu diperhatikan oleh Sang Khalik sehingga kita akan berhati-hati dalam melakukan sesuatu. Dan semoga kita semua termasuk orang-orang yang bertobat dengan tobat yang sebenar-benarnya. Amin ….
Previous
Next Post »

2 comments

Write comments
January 5, 2009 at 6:42 PM delete

setujuh pak...
setujuh bangget soal bercermin
tapi maaf yah...
kalau kata sayah angka kematian tinggi karena tetep ajah ikan2 tuh stress gitu lihat kamyu....

peace!!!!

Reply
avatar
January 7, 2009 at 4:45 PM delete

Iya, mengapa mereka steres ngeliat sayah ya? Aneh ... T-T

Reply
avatar
"Aku wasiatkan kepada kamu untuk bertakwa kepada Allah; mendengar dan taat (kepada penguasa kaum muslimin), walaupun seorang budak Habsyi. Karena sesungguhnya, barangsiapa hidup setelahku, dia akan melihat perselishan yang banyak. Maka wajib bagi kamu berpegang kepada Sunnahku dan Sunnah para khalifah yang mendapatkan petunjuk dan lurus. Peganglah dan gigitlah dengan gigi geraham. Jauhilah semua perkara baru (dalam agama). Karena semua perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan semua bid’ah adalah sesat." (HR. Abu Dawud no: 4607; Tirmidzi 2676; Ad Darimi; Ahmad; dan lainnya dari Al ‘Irbadh bin Sariyah).