Manajemen Marah

🌍 BimbinganIslam.com
Sabtu, 2 Shafar 1437 H / 14 November 2015 M
📝 Materi Tematik
👤 Ustadz Abdullah Zaen, MA
🔊 Ceramah Agama | Orang Yang Paling Kuat
⬇ Download audio:
https://goo.gl/yAjyOp

Sumber:
https://youtu.be/ZLY0vBaLPDU
➖➖➖➖➖➖➖

ORANG YANG PALING KUAT


بِسْـــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــــــــــم
الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على نبينا محمد و على آله وصحبه أجمعين أَما بَعْد


Tahun 1976 Masehi.
Ada kejadian apa pada tahun itu?

Mungkin ada di antara Anda yang sudah lahir saat itu, kalau saya belum lahir.

Cuma saya baca berita (bahwa) tahun 1976 ada sebuah kejadian yang unik.

Kejadian apa?
Kejadian pertandingan "sabung" manusia yang tidak lazim.

Apa?
Eksibisi antara juara dunia gulat melawan juara dunia tinju.

Makanya saya katakan "unik" karena antara juara tinju melawan juara gulat.

Juara tinjunya adalah Muhammad Ali sedangkan juara gulatnya adalah Antonio Inoki dari Jepang.

Namun ternyata hasil akhirnya mengecewakan banyak orang.

Banyak orang yang kecewa berat ketika melihat hasil akhir dari pertandingan tersebut.

Apa gerangan hasil akhirnya?

Kalau Anda yang baca berita atau Anda yang hidup pada saat itu mungkin tahu hasil akhirnya adalah "draw" alias tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah.

Yang jadi pertanyaan, kenapa banyak yang kecewa dengan hasil "draw" tersebut?

Jawabannya adalah karena mereka ingin tahu dan penasaran, siapa diantara dua juara dunia ini yang lebih kuat.

Inilah barometer kekuatan menurut kebanyakan orang.


Kebanyakan orang menilai kekuatan itu dari kekuatan fisik, siapa yang kuat duelnya, (maka) dialah yang paling kuat.

Itu menurut persepsi kebanyakan manusia.

Tapi kalau menurut agama kita beda.

Agama kita menilai kekuatan bukan semata dari kekuatan fisik, tapi agama kita menilai kekuatan dari sisi yang lainnya.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.

Nabi kita, Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِى يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

"Orang kuat bukan diukur dari kekuatan dia dalam duel berkelahi/bergulat.

Orang yang kuat adalah orang yang bisa menahan diri ketika dia sedang emosi."


Jadi barometer kekuatan di dalam Islam itu bukan semata kekuatan fisik, tapi barometer kekuatan dalam Islam adalah:

◆ Bagaimana Anda bisa menahan diri anda ketika sedang marah ◆

"Berarti kita tidak boleh marah dong?"

Marah, manusiawi.

Saya kira tidak ada diantara kita yang tidak pernah marah.

Tapi yang membedakan antara orang yang beriman dengan orang yang tidak beriman adalah bagaimana cara Anda me "menej" kemarahan Anda.

"Wah, ternyata marah ini ada manajemennya juga ya?"

Ya, jadi manajemen tidak cuma manajemen perusahaan, tidak. Tapi marah juga ada manajemennya.

Bagaimana cara kita me "menej' marah?

Orang yang kuat adalah orang yang bisa me "menej" kemarahan dia.

Bagaimana cara me "menej" kemarahan?

Banyak cara.


⑴ TIDAK MELAMPIASKAN KEMARAHAN DENGAN PERKATAAN ATAU PERBUATAN

Dan inilah salah satu sifat orang yang beriman, sebagaimana dijelaskan Allāh Subhānahu wa Ta'āla dalam Al Qurān:

وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ

"Dan orang-orang yang menahan amarahnya."

(QS Āli 'Imrān: 134)

⇒ Menahan amarah maksudnya, kata sebagian ahli tafsir, adalah tidak melampiaskan kemarahan dengan ucapan ataupun perbuatan.

Jadi kalau Anda lagi marah, segera tahan lisan Anda, tahan tangan Anda, tahan kaki Anda.

Makanya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam pernah berpesan:

وإِذا غَضِبْتَ فَاسْكُتْ

"Kalau engkau sedang marah maka jagalah lisan."

(HR Bukhāri dari shahābat 'Abdullāh bin 'Abbās)


⑵ BERSEGERA UNTUK BERISTI'ĀDZAH (MEMOHON PERLINDUNGAN) KEPADA ALLĀH SUBHĀNAHU WA TA'ĀLA

Karena kemarahan itu sumbernya dari setan, maka kita memohon perlindungan kepada Dzat yang menciptakan dan menguasai setan tersebut yaitu Allāh Subhānahu wa Ta'āla.


⑶ BERUSAHALAH UNTUK MERUBAH POSISI

• Kalau kita lagi berdiri, (maka) segeralah untuk duduk.

• Kalau kita lagi duduk, (maka) segeralah untuk berbaring.

• Kalau kita lagi berbaring masih marah juga, maka tidur atau yang lainnya.

Jadi jangan justru sebaliknya.

Sebagian orang kalau lagi marah (saat) duduk, lalu dia berdiri. Dan kalau lagi (marah) berdiri, (maka) dia jalan.

Tidak !

Tapi Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam mengajarkan:

Kalau kita lagi marah (saat) berdiri, maka duduk. Kalau kita masih marah juga maka berbaringlah sampai rasa amarah itu bisa reda dari kita.

Selamat me "menej" marah Anda, sehingga Anda menjadi orang yang paling kuat.

Terima kasih atas perhatiannya, mohon maaf atas segala kekurangannya.


سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ
وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
______________________________
📦 Donasi Operasional & Pengembangan Dakwah Group Bimbingan Islam
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank 451
| No. Rek : 7103000507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
| Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004

🌐 Website:
http://www.bimbinganislam.com
👥 Facebook Page:
Fb.com/TausiyahBimbinganIslam
📣 Telegram Channel:
Telegram.me/TausiyahBimbinganIslam
📺 http://BimbinganIslam.tv
Previous
Next Post »
"Aku wasiatkan kepada kamu untuk bertakwa kepada Allah; mendengar dan taat (kepada penguasa kaum muslimin), walaupun seorang budak Habsyi. Karena sesungguhnya, barangsiapa hidup setelahku, dia akan melihat perselishan yang banyak. Maka wajib bagi kamu berpegang kepada Sunnahku dan Sunnah para khalifah yang mendapatkan petunjuk dan lurus. Peganglah dan gigitlah dengan gigi geraham. Jauhilah semua perkara baru (dalam agama). Karena semua perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan semua bid’ah adalah sesat." (HR. Abu Dawud no: 4607; Tirmidzi 2676; Ad Darimi; Ahmad; dan lainnya dari Al ‘Irbadh bin Sariyah).