Perselisihan Umatku Rahmat? Benarkah?

Ibnu_Mukhtar ہﮩ

الحمد للّه وحده و الصلاة و السلام على من لا نبيّ بعده

Saudaraku seislam yang saya muliakan, sering kita mendengar jika terjadi sebuah perbedaan pendapat, pihak-pihak yang tidak lapang hatinya dalam menerima kebenaran atau sunnah tentang masalah itu berdalih, 'Sudahlah kita ga usah mempermasalahkan urusan ini, toh perselisihan umat Rosululloh adalah rahmat..'.

Mereka yang berkata demikian biasanya membawakan sesuatu yang mereka yakini sebagai hadits Nabi ~shollallohu 'alaihi wa sallam~, yaitu :

اختلاف أمّتي رحمة

Ikhtilaafu ummatii rohmatun

Artinya : Perselisihan umatku adalah rahmat

Benarkah demikian?

Tentang ungkapan ini, Syaikh Albani ~rohimahulloh~ berkata :

Pertama,

أنّ الحديث لا يصحّ, بل هو باطل لا أصل له

hadits ini tidak sah bahkan termasuk hadits bathil, tidak mempunyai asal sama sekali.

Berkata 'Allamah as-Subki ;

Saya tidak menemukan sanad hadits ini yang shohih, tidak juga sanad yang dhoif, dan tidak juga yang maudhu' (palsu)

Kedua,

أنّ الحديث مع ضعفه مخالف للقراَن الكريم

hadits ini selain dho'if, juga bertentangan dengan al-Qur'an.

"..tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Robbmu.." [QS. Hud ayat 118-119]

Apabila orang yang dirahmati Alloh tidak berselisih, yang berselisih hanyalah para pengikut kebathilan maka bagaimana bisa masuk akal jika perselisihan adalah rahmat? Maka nyatalah bahwa hadits ini TIDAK SAH baik sanad maupun isinya.

----
Diringkas dari Shifat Sholat Nabi karya Syaikh Al Albani rohimahulloh hal. 34-35
Previous
Next Post »
"Aku wasiatkan kepada kamu untuk bertakwa kepada Allah; mendengar dan taat (kepada penguasa kaum muslimin), walaupun seorang budak Habsyi. Karena sesungguhnya, barangsiapa hidup setelahku, dia akan melihat perselishan yang banyak. Maka wajib bagi kamu berpegang kepada Sunnahku dan Sunnah para khalifah yang mendapatkan petunjuk dan lurus. Peganglah dan gigitlah dengan gigi geraham. Jauhilah semua perkara baru (dalam agama). Karena semua perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan semua bid’ah adalah sesat." (HR. Abu Dawud no: 4607; Tirmidzi 2676; Ad Darimi; Ahmad; dan lainnya dari Al ‘Irbadh bin Sariyah).