Inspiring Story

Aku mendapatkan cerita ini dari forum: rileks.itb.ac.id - semoga memberikan inspirasi untuk kita semua -

Sepasang suami dan istri petani pulang kerumah setelah berbelanja. Ketika mereka membuka barang belanjaan, seekor tikus memperhatikan dengan seksama sambil menggumam "hmmm...makanan apa lagi yang dibawa mereka dari pasar??"

Ternyata, salah satu yang dibeli oleh petani ini adalah Perangkap Tikus. Sang tikus kaget bukan kepalang. Ia segera berlari menuju kandang dan berteriak " Ada Perangkap Tikus di rumah....di rumah sekarang ada perangkap tikus...."

Ia mendatangi ayam dan berteriak " ada perangkap tikus"

Sang Ayam berkata " Tuan Tikus..., Aku turut bersedih, tapi itu tidak berpengaruh terhadap diriku"

Sang Tikus lalu pergi menemui seekor Kambing sambil berteriak.

Sang Kambing pun berkata " Aku turut ber simpati...tapi tidak ada yang bisa aku lakukan"

Tikus lalu menemui Sapi. Ia mendapat jawaban sama. " Maafkan aku. Tapi perangkap tikus tidak berbahaya buat aku sama sekali"

Ia lalu lari ke hutan dan bertemu Ular.

Sang ular berkata "Ahhh...Perangkap Tikus yang kecil tidak akan mencelakai aku"

Akhirnya Sang Tikus kembali ke rumah dengan pasrah mengetahui kalau ia akan menghadapi bahaya sendiri.

Suatu malam, pemilik rumah terbangun mendengar suara keras perangkap tikusnya berbunyi menandakan telah memakan korban.

Ketika melihat perangkap tikusnya, ternyata seekor ular berbisa. Buntut ular yang terperangkap membuat ular semakin ganas dan menyerang istri pemilik rumah. Walaupun sang Suami sempat membunuh ular berbisa tersebut, sang istri tidak sempat diselamatkan.

Sang suami harus membawa istrinya ke rumah sakit dan kemudian istrinya sudah boleh pulang namun beberapa hari kemudian istrinya tetap demam.

Istrinya lalu minta dibuatkan sop ceker ayam oleh suaminya. Suaminya dengan segera menyembelih ayamnya untuk dimasak cekernya.

Beberapa hari kemudian sakitnya tidak kunjung reda. Seorang teman menyarankan untuk makan hati kambing. Ia lalu menyembelih kambingnya untuk mengambil hatinya.

Masih, istrinya tidak sembuh-sembuh dan akhirnya meninggal dunia.

Banyak sekali orang datang pada saat pemakaman. Sehingga sang Petani harus menyembelih sapinya untuk memberi makan orang-orang yang melayat.

Dari kejauhan...Sang Tikus menatap dengan penuh kesedihan. Beberapa hari kemudian ia melihat Perangkap Tikus tersebut sudah tidak digunakan lagi.

So...suatu hari.. ketika anda mendengar seseorang dalam kesulitan dan mengira itu bukan urusan anda .. pikirkanlah sekali lagi
Previous
Next Post »

6 comments

Write comments
Anonymous
AUTHOR
March 30, 2008 at 7:03 AM delete

yups..ini ke 2 kali saya baca cerita ini tapi tetep saja asik buat dibaca..penuh dengan petuah :cool:

Reply
avatar
Anonymous
AUTHOR
March 30, 2008 at 9:31 AM delete

bantulah yang lain selagi bisa, karena suatu saat nanti, kamu pasti membutuhkan bantuannya. piss.

Reply
avatar
March 30, 2008 at 7:16 PM delete

hEeee :D aku dach 2 kalo baca yg sama kayak ini,tp ttp bagus tuk di baca

bagus bngt amanat yg tergantung di dalamnya *_^

Reply
avatar
rizky
AUTHOR
March 31, 2008 at 12:07 PM delete

ya, dhe aQ akan rajin membantu orang yang lagi dalam kesulitan.........

Reply
avatar
March 31, 2008 at 6:54 PM delete

suka banget ama petuah ini...lebih banyak orang yang bersimpati saja, tapi berat kalo ngebantu langsung.

Reply
avatar
Anonymous
AUTHOR
April 3, 2008 at 8:03 AM delete

bagus banget ceritanya...
seandainya semua orang bisa mengamalkan amanat dari cerita tersebut...
tapi yakin kalian juga bisa saling membantu satu sama lain...

Reply
avatar
"Aku wasiatkan kepada kamu untuk bertakwa kepada Allah; mendengar dan taat (kepada penguasa kaum muslimin), walaupun seorang budak Habsyi. Karena sesungguhnya, barangsiapa hidup setelahku, dia akan melihat perselishan yang banyak. Maka wajib bagi kamu berpegang kepada Sunnahku dan Sunnah para khalifah yang mendapatkan petunjuk dan lurus. Peganglah dan gigitlah dengan gigi geraham. Jauhilah semua perkara baru (dalam agama). Karena semua perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan semua bid’ah adalah sesat." (HR. Abu Dawud no: 4607; Tirmidzi 2676; Ad Darimi; Ahmad; dan lainnya dari Al ‘Irbadh bin Sariyah).